
13 Mei 2026 · 5 menit baca

Ditulis Oleh

Satya Fariz
13 Mei 2026 · 3 menit baca
Bagikan
Pernahkah Anda mendengar candaan tentang "di Bekasi mataharinya ada dua"? Istilah ini populer untuk menggambarkan betapa ekstremnya suhu udara di sana. Namun, secara ilmiah, fenomena ini dikenal dengan istilah Urban Heat Island (UHI).

Sumber: blok-a.com
Dikutip dari jurnal CivilEng (2021) dalam artikel berjudul Urban Heat Island: Causes, Consequences, and Mitigation Measure', Vujovic dkk. Fenomena Urban Heat Island (UHI) didefinisikan sebagai kondisi di mana suhu udara di wilayah perkotaan secara signifikan lebih tinggi, berkisar antara 1°C hingga lebih dari 10°C, dibandingkan dengan area pedesaan di sekitarnya. Secara teknis, fenomena ini terjadi karena ekspansi permukaan kedap air seperti aspal dan beton yang mengubah keseimbangan energi lokal dengan menyerap panas matahari secara masif dan mengurangi laju evapotranspirasi alami. Kondisi ini menyebabkan peningkatan suhu permukaan dan udara yang berdampak buruk pada kenyamanan termal manusia, memicu stres panas, serta meningkatkan risiko mortalitas terkait suhu ekstrem.
Sayangnya, saat suhu kota memuncak, kita cenderung melarikan diri ke dalam ruangan dan menyalakan AC rata kiri. Padahal, desain interior yang salah justru bisa menjadi jebakan panas yang meningkatkan stres dan menurunkan kualitas hidup. Lantas, bagaimana kita melawan balik? Jawabannya bukan sekadar menambah unit AC, melainkan melalui rekayasa interior yang responsi.

Warna bukan sekadar elemen estetika, melainkan instrumen fisik yang memengaruhi Solar Reflectance Index (SRI) atau kemampuan permukaan dalam memantulkan energi matahari. Dalam desain interior responsif, penggunaan warna-warna dingin seperti misty grey, biru pucat, atau putih tulang berfungsi sebagai pertahanan pertama untuk meminimalisir penyerapan panas serta memberikan istirahat visual bagi mata yang lelah akibat silau lingkungan urban.

Photo by Jonathan Borba on Unsplash
Material padat seperti bata ekspos, semen poles, atau batu alam bertindak sebagai penyerap panas yang efektif. Material ini bekerja dengan cara menyimpan panas di siang hari dan melepaskannya secara perlahan saat suhu mulai turun, sehingga permukaan ruangan tetap terasa dingin saat disentuh dan membantu menstabilkan suhu di dalam rumah.

Photo by Brett Wharton on Unsplash
Menaruh tanaman di dalam ruangan menciptakan sistem pendinginan alami melalui proses pelepasan uap air ke udara. Selain mendinginkan suhu mikro secara fisik, elemen alam ini juga terbukti secara medis dapat menurunkan hormon stres (kortisol) sehingga penghuni merasa lebih rileks meski tinggal di lingkungan perkotaan yang padat.

Photo by Alex Tyson on Unsplash
Penataan furnitur yang strategis sangat penting untuk membuang udara panas yang terjebak di dalam ruangan. Dengan menggunakan perabot berkaki tinggi, peletakan firnitur tidak terlalu rapat dan memaksimalkan ventilasi silang, udara dapat terus bergerak bebas untuk menggantikan hawa pengap, sesuai dengan standar kenyamanan suhu ruang bagi manusia.
Memahami tantangan iklim perkotaan yang semakin ekstrem bukan sekadar soal angka di termometer, melainkan tentang kualitas hidup dan kesehatan mental kita. Dalam setiap proses mendesain, kami di Livintech selalu menempatkan kenyamanan termal dan psikologis
pengguna sebagai prioritas utama dengan memitigasi efek panas perkotaan melalui rekayasa material yang cerdas serta strategi desain yang responsif.
Kami percaya bahwa rumah seharusnya menjadi tempat bernaung yang memulihkan, bukan justru menjadi jebakan panas yang memicu stres akibat fenomena Urban Heat Island. Ciptakan hunian yang adem dan tenang di tengah teriknya kota bersama solusi arsitektur inovatif kami yang sudah teruji secara teknis maupun estetika.

13 Mei 2026 · 5 menit baca